Beralihnya Profesi Ulama “Dari Dakwah Ke Politik”

ADVOKASIRAKYAT.COM | Ulama merupakan seorang pemuka agama atau pemimpin agama yang bertugas untuk mengayomi , membina, dan membimbing umat Islam, baik dalam masalah-masalah agama maupun dalam sosial masyarakat. Yang menjadi persoalan pada saat ini adalah ulama yang sudah beralih profesi dari seorang pendakwah menjadi politisi. Persoalan ini menjadi pro dan kontra di kalangan masyarakat muslim dengan berbagai macam alasan. Salah satunya adalah “ulama tidak patut menjadi pemimpin Negara sedangkan moral anak bangsa masih hancur lebur”.

Yang harus digaris bawahi adalah ulama tidak seharusnya terjun ke dalam dunia politik. Walaupun tujuannya untuk memajukan Negara dan menegakkan hukum Allah. bagaimana bisa seorang petani dapat memanen hasil dengan kualitas yang tinggi, sedangkan bibitnya tidak tumbuh dengan sempurna? Ini yang harus dipahami oleh seorang pemimpin. Seorang pemimpin tidak serta-merta bisa mengubah dunia ini dengan dia menjabat. Akan tetapi, para pemimpin harus memulai dari hal kecil dan kemudian berlanjut kepada yang lebih besar. Indonesia merupakan Negara yang menampung berbagai macam agama dan mayoritasnya Islam dengan berbagai macam suku dan budaya. Apakah ketika ulama menjadi pemimpim mampu mengendalikan semuanya?

Negara baik adalah Negara yang menerapkan hukum Allah seperti yang dikemukakan oleh Thomas Aquinas merupakan seorang pemikir politik yang terkenal pada zaman Romawi Kuno. Beliau merupakan salah satu pemikir politik bangsa Eropa yang memiliki pemikiran religius. Ia mengatakan bahwa Negara merupakan bagian dari pemerintahan universal, yaitu diciptakan dan dipimpin oleh Tuhan sendiri untuk mencapai kebaikan umum. Negara yang baik adalah dipimpin oleh satu orang atau monarki dan menerapkan hukum Tuhan. Thomas meletakkan dasar teori hukum pada interpretasi kodrat manusia yang berhubungan dengan Tuhan dan alam semesta.

Yang dikemukakan oleh Thomas betul adanya, akan tetapi itu semua tidak bisa diterapkan di Indonesia, karena Indonesia bukan negara Islam, hanya saja mayoritas Islam. Bukan Negara yang harus diperbaiki, akan tetapi akhlak manusia yang harus dibina, dengan demikian Negara ini akan maju seiring berjalannya waktu. Dalam satu hal baik ulama menjadi pemimpin, disisi lain ketika ulama menjabat tidak sepenuhnya ia bisa menerapkan hukum Allah dengan masyarakat Indonesia yang majemuk. Jika sebagian dari umat muslim setuju ulama yang menjadi pemimpin dengan berlandaskan politik pada zaman rasulullah. Zaman rasul berbeda dengan sekarang, pada masa itu, nabi Muhammad diutus untuk memperbaiki akhlak umat manusia dan memerangi suatu kaum yang ingin berperang. Beliau ingin menyiarkan agama Islam dengan baik tanpa perang. Namun, nabi harus berperang ketika mereka diserang oleh suatu kaum. Pada masa itu, tidak ada orang yang berpolitik dengan benar kecuali nabi Muhammad. Nabi bukan mengejar kekuasaan, akan tetapi menyampaikan amanah yang telah dititip kepadanya. Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah apakah ulama menjabat untuk memperbaiki moral manusia atau mengejar kekuasaan?

Apakah Negara ini akan lebih baik ketika ulama yang memimpin? Indonesia sekarang ini sedang mengalami dilema dalam hal agama maupun politik. Indonesia yang katanya Negara demokrasi, tapi pada kenyataannya masih ada yang saling menghujat. Tidak sedikit partai yang berbasis religius di Indonesia, tapi kenapa masih ada umat Islam yang belum terarah? Dari realita tersebut dapat dilihat bahwa tidak ada pengaruh yang lebih besar bagi orang muslim di Indonesia. Ulama seharusnya membantu partai-partai Islam yang sudah ada di Indonesia sejak lama untuk mencapai tujuannya dengan peran dan fungsinya sebagai ulama.

Ulama memang banyak mengetahui tentang politik, bukan berarti harus terjun ke dalam dunia politik. Ulama seharusnya menjadi penasihat politik. Ulama harus menyadari bahwa fungsi dirinya adalah sebagai pewaris para nabi. Yang menjadi pertanyaan adalah apakah yang diwariskan para nabi kepada ulama? Yang jelas warisan tersebut bukan harta benda, akan tetapi fungsi dan tugas para nabi yang dapat dikatakan bahwa ulama yang meneruskan tugas yang Allah titipkan kepada nabi untuk memperbaiki aqidah umat manusia. Sangat berat beban ulama, karena ia terikat dengan ilmunya. Apabila ulama tidak mengamalkan ilmunya, maka akan dikecam dosa besar dengan ayat-ayat yang ada dalam Al-quran. Jika masyarakat awam yang melakukan kesalahan, dosanya cukup satu, sedangkan ulama akan mendapatkan dosa berlipat ganda. Alangkah lebih baik, ulama menjadi pemimpin pasantren daripada pemimpin Negara. Dengan demikian peran ulama sebagai pendakwah dan politiknya akan berjalan berdampingan.

Zulfita Rahmi, mahasiswa Ilmu Politik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh

Facebook Comments

loading…


Tags: ,
banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: