,

Dimulai Dari Limbah Petani Untuk Aceh Tenggara

by

Dimulai Dari Limbah Petani Untuk Aceh Tenggara

*Penulis Muhammad Husaini Assauwab

*Penulis merupakan peserta lomba menulis SPMA Aceh Tenggara

            Aceh tenggara merupaka salah satu nama kabupaten yang ada di Provinsi Aceh, Kabupaten ini beribu kotakan di Kutacane. Aceh Tenggara berada pada barisan bukit barisan dan taman gunung lauser, dengan ketinggian tempat 1.000 meter di atas permukaan laut dengan luas 4.231,41 km2, dan memiliki kontur tanah yang bergelombang dan berbukit yang dikelilingi Taman Nasional Gunung Lauser. Masyarakat Aceh Tenggara sebagian besar menggantungkan hidup dalam bidang pertanian (Petani, Pekebun, Peternak, dan Perikanan), dan hanya selain kecil dalam bidang lain.

Muhammad Husaini Assauwab
Melihat luasnya setral usaha dibidang pertanian, maka tidak mungkin pula limbah yang ditimbulkan hanya sedikit. Kita ketahui setiap kegiatan budidaya atau produksi berpotensi menghasilkan limbah, apa lagi di bidang pertanian. Melihat banyaknya limbah yang dihasilkan melalu daun, ranting, cabang, kulit buah, biji, akar, batang dan lain-lain. Dalam produksi jangung perhektarnya menghasilkan limbah 12,19 Ton/Ha itu hanya pada bagian daun dan batang jagung, dan janggelnya atau sering disebut tongkol jagung mencapai 1 ton/Ha setiap kali produksi. Untuk padi mengasilkan limbah mencapai 11,52 Ton/Ha, pada tanaman kakao mengasilkan limbah panen lebih dari 200 kg/ Ha setiap kali panen, ini hanya bebrapa dari limbah pertanian, dan masih beberapa dari limbah yang dihasilkan oleh pertanian, namun pada saat ini untuk pengolahan dan pemanfaat limbah pertanian yang sangat minim. Biasanya limbah dari produksi dibiarkan atau dibakar, hal ini tidak semata sampai batas tidak susah untuk membuang atau mengganggu produksi selanjutnya, namun memberi dampak yang negatif bagi udara dan penipisan ozon (Pemanasan Global). Memberi dampak yang saling tolak belakang dengan GO GREEN oleh dunia.

            Limbah yang dihasilkan dari bidang usaha pertanian sebenarnya dapat dimafaatkan untuk bentuk dan keperluan yang lain, misalnya seperti limbah jagung sebagai pakan ternak dan bahan bakar breket, jerami sebagai pakan ternak dan media budidaya jamur, limbah kayu sebagai media budidaya jamur dan bahan bakar, kakao sebagai pakan ternak, limbah ternak untuk pupuk dan biogas, limbah buah-buahan dapat digunakan sebagai aksesoris dan pembibitan, dan masih banyak lagi jenis limbah dan kegunaan yang dapat dimanfaatkan dengan sentuhan ilmu dan teknologi yang tepat. Salah satu upaya untuk menanggulangi dampak negatif dari pembakaran limbah pertanian yang sering dilakukan para usaha agronomi, yaitu memberi suatu inofasi dan memanfaatkan limbah dan memberi nilai tambah bagi petani dan keluarga.

            Untuk mengukur tingkat kesejahteraan suatu daerah maka parameter yang perlu diperhatikan iyalah dari Pedesaan wilayah itu sendiri. Jika Desa sejahtera maka secara tidak langsung menjamin pusat koto juga mengalami hal yang sama. Untuk mengawali perubahan yang beras, sebaiknya diawali dari yang kecil. Hal tersebut berupa pemanfaatan limbah pertanian. Yang dimana limbah pertanian sangat mudah didapatkan di Pedesaan, misalkan seperti tongkol jagung. Hampir setiap wilayah Kabupaten Aceh Tenggara sangat mudah menemukan tongkol jagung, jadi hal yang tidak mungkin jika tidak memproduksi limbah. Tanaman jagung biasanya menghasilkan dua jenis limbah, yaitu libah kebun berupa kulit buah, batang, daun dan akar dan limbah produksi berupa tongkol jagung.

            Dilihat daya serap konsumen terhadap jamur sangat tinggi, maka mebuka peluang untuk usaha baru, seperti berbudidaya jamur janggel atau masyarakat Aceh Tenggara sering meberi sebutan dawan khunci (Alas). Dilihat wilayah Aceh Tenggara dengan produksi jagung yang melimpah, sangat berpotensi dalam upaya budidaya jamur janggel ini. Selain dari bahan baku yang mudah didapatkan, dan memiliki biyaya produksi relatif sangat murah dan ditambah lagi sumber daya alam yang menudukung, dikarnakan untuk memulai usaha budidaya jamur, tidak memerlukan bibit dan gembung atau rumah jamur. Cukup hanya dengan memodalkan naungan sederhana dan kotak dari katu atau bambu. Dengan penyiramanan yang cukup jamur janggel akan tumbuh dengan baik. Media biasanya ditata rapi dengan membuat bak penanaman sesuai dengan kebutuhan, setelah itu dilakukan penyiraman sampai jenuh air. Pemeliharaan yang cukup mudah dan hanya dalam hal ini selaku petani jamur janggel hanya perlu memperhatikan kelembapan dan suhu media.

            Pemanenan biayasanya ketika media setelah berumur 14 setelah perlakuan, pemanenan dilakukan pada jamur-jamur yang tampak putih dan besar. Untuk saat ini pasaran jamur janggel (Dawan Khunci) diharagi dengan Rp 40.000,-  sampai dengan Rp 60.000,-. Dengan lahan 1 x 10 m, dapat menghasilkan lebih kurang 4 kg, dalam satu kali panen dapat merauk keuntungan Rp 200.000,- setiap kali panen, jika harga jual hanya 50.000,- per-kilonya. Pemanenan bias dilakukan dengan interpal minimal 1 hari sekali dan maksimal 2 hari sekali, sebab umur jamur yang tergolong singkat yang membuat jamur ini harus cepat di panen dibandingkan jamur jenis lainnya. Jika jamur mekar, untuk saat ini tidak dapat dijual dalam bentuk jamur janggel yang mekar, karena sudah berubah bentuk dan kelopak jamur berubah menjadi hitam pekat, dan masyarakat lokal sering menyebut dengan dawan male. Bukan berarti ketika jamur mekar tidak dapat dikosumsi, malahan beberapa orang sangat suka terhadap jamur janggel yang mekar.

            Jamur janggel yang sangat mudah diolah, bahkan anak-anak dapat dengan nudahnya mengolah jamur janggel menjadi makan yang lezat. Dengan adanya budidaya jamur ini, akan dapat menambah pendapatan petani, dan dapat memberi potensi usaha baru (pasca panen) yang akan tumbuh mengingat jamur yang sangat mudah untuk diolah menjadi bentuk makanan lain, seperti saus jamur janggel, keripik jamur, naget jamur, bakso jamur, mie jamur, tepung jamur dan dapat memungkinkan memberi inofasi-inofasi yang baru.

         Dalam hal pengembangan budidaya jamur ini, peranan pemerintah sangat penting dalam pendampingi petani dalam banyak hal, seperti memberi peluang pasar, memberi pelatihan-pelatihan dan bimbingan bagi pelaku usaha (baik bidang agronomi dan pasca panen) jamur janggel atau dawan khunci. Dengan meningkatnya pendapat masyarakat, akan memberi dampak positif bagi usaha bidang berniaga (kota). Dengan mandirinya masyarakat, akan memberi dampak positif bagi kemajuan daerah, secara tidak langsung akan mendorong pembangunan inprastruktur, ekonomi berkelanjutan, wisata, kuliner, edukasi, dan memberi sumber daya manusia (SDM) yang kreatif dan madiri. Dengan berkembangnya usaha mikro yang ada dipedesaan akan mengembangkan yang lainnya dan memberi kesejahtreaan bagi masyarak Aceh Tenggara pada khususnya, dan memberi dampak yang luas dan sebagai contoh bagi daerah-daerah yang lain.

Leave a Reply