Firmandes Sambut Baik Rencana Pemberian Gelar Pahlawan Nasional untuk Keumalahayati

ADVOKASIRAKYAT, JAKARTA – Koordinator Tim Pemantau Otonomi Khusus (Otsus) Aceh, H Firmandez, menyambut baik rencana pemberian gelar pahlawan nasional untuk Keumalahayati, perempuan pertama di dunia yang menjadi laksamana.

Diakuinya Keumalahayati sebagai pahlawan nasional telah menambah jumlah perempuan asal Aceh yang menjadi pahlawan nasional. Sebelumnya pemerintah Republik Indonesia telah mengakui dua perempuan Aceh lainnya, yakni Cut Nyak Dhien dan Cut Meutia sebagai pahlawan nasional.

“Diakuinya Keumalahayati sebagai pahlawan nasional telah menambah jumlah pahlawan nasional perempuan di Indonesia menjadi 15 orang. Kita patut berbangga dari 15 orang itu, 3 orang diantaranya merupakan orang Aceh,” jelas H Firmandez.

Anggota DPR RI asal Aceh ini melanjutkan, Aceh masih memiliki peluang untuk menambah perempuan nasional asal Aceh. selain Cut Nyak Dhien, Cut Meutia dan Keumalahayati, sejarah Aceh mencatat ada wanita-wanita tangguh lainnya asal Aceh yang aktif digarda depan peperangan melawan penjajahan Belanda, bahkan mereka langsung memimpin peperangan bersama pasukannya.

Wanita-wanita lainnya pejuang asal Aceh yang potensial untuk jadi pahlawan nasional itu adalah Pocut Meuran Intan yang dikenal sebagai Pocut Di Biheue di Pidie, Pocut Baren di Woyla Aceh Barat dan Teungku Fakinah di Aceh Besar.

“Mereka-mereka itu pejuang-pejuang tanggung di masa perang dengan Belanda. Nama-nama mereka tertulis dengan tinta emas dalam buku Prominent Women in the Glimpse of Histori atau wanita-wanita utama nusantara dalam sejarah,” ungkap H Firmandez.

Malah lanjut H Firmandez, karena kegigihannya melawan penjajahan Belanda, Pocut Di Biheue pada akhir hidupnya setelah sakit akhibat perang ditawan oleh Belanda dan diasingkan ke Jawa Timur. Ia dimakamkan di Blora, Jawa Timur.

“Pocut Di Biheue ini dicatat dalam sejarah bukan hanya oleh bangsa Indonesia tapi juga oleh Belanda. Perwira militer Belanda semasa Perang Aceh, Veltmant yang dikebal sebagai Tuan Pedoman yang bisa berbahasa Aceh, datang langsung menjenguk Pocut Di Biheue dalam sakitnya sebelum ditawan. Veltmant berdiri tegak dan mangangkat tabik menaruh hormat atas perempuan pemberani itu,” jelas H Firmandez.

Begitu juga dengan Pocut Baren wanita pejuang tanguh asal Woyla, Aceh Barat, kakinya diamputasi setelah ditangkap oleh Belanda. Sementara Teungku Fakinah memimpin perang melawan Belanda di empat benteng pertahanan.

“Spirit kepahlawanan perempuan-perempuan Aceh masa lalu luar biasa. Mereka pantas digelar sebagai pahlawan nasional. Spirit mereka itu yang harus ditiru oleh generasi Aceh sekarang dalam membangun bangsa dan negara,” harap H Firmandez.(teropong)

Facebook Comments

loading…


banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: