PARTAI ACEH MELAKUKAN PEMENANGAN PEMILU

by

ADVOKASIRAKYAT.COM | Di dunia militer, adagium ada, “kenali sendiri, kenali musuhmu maka seribu kali perangmu akan menang”. Oleh karena itu, dalam strategi perang harus ada kekuatan dan kekuatan pasukan, untuk menyusun strategi dan taktik yang akan digunakan. Untuk bisa memilih strategi dan taktik yang tepat, seorang panglima perang harus mengenal betul kondisi CUMEMU (istilah dunia militer, Medan dan Musuh). Ini penting mengingat CUMEMU sangat mempengaruhi dalam pertempuran. (15/09/2018)

Pada dasarnya, strategi dalam memenangi kontestasi Pemilu partai aceh memiliki kemiripan dengan strategi perang. Tentu, ada pula yang membedakannya. Pembeda yang sangat kentara terletak pada target yang disasar untuk mencapai kemenangan. Dalam perang, target yang disasar adalah melemahkan dan merusak atau menghancurkan pasukan musuh baik fisik, moral dan mental, dan segala logistik perang serta hal pendukung lainnya sehingga pasukan musuh menyerah atau binasa. Dengan itu, kemenangan diraih.

Sementara dalam kontestasi Pemilu, target yang disasar partai aceh adalah simpati pemilih agar ia menjatuhkan pilihannya dalam Pemilu pada partai Aceh. Partai Aceh yang paling banyak dipilih oleh pemilih akan keluar sebagai pemenang. Jadi, pasukan menang dalam perang kalau musuh menyerah, sementara partai memenangi kontestasi pemilu kalau mendapatkan suara pemilih terbanyak.

Namun demikian, perbedaan tersebut tak menghalangi Aceh untuk mengadopsi dan memodifikasi strategi perang menjadi strategi pemenangan partai dalam Pemilu. Hal pertama yang harus dilakukan adalah menerjemahkan istilah CUMEMU untuk kepentingan strategi pemenangan partai. Cuaca dapat diterjemahkan sebagai timing dan momentum, preferensi pemilih, budaya politik, perilaku pemilih, dan regulasi pemilu. Medan bisa diterjemahkan sebagai pemilih dan lingkungannya. Sementara musuh adalah partai kompetitor dan segala aspek pendukungnya. Terjemahan target yang disasar adalah menguasai medan atau pemilih dan lingkungannya.

Strategi pemenangan yang tepat hanya bisa dihasilkan tatkala interpretasi CUMEMU di atas dapat diidentifikasi dengan tuntas dan jelas, dan dijadikannya sebagai salah satu input pembuatan strategi. Input lainnya adalah pengetahuan mengenai kondisi eksisting partai dan kapasitas yang dimilikinya. Misalnya, struktur kepengurusan DPP, DPW, DPS, samapai dengan dewan pengurus Gampong partai Aceh, KPA, MUNA, Pasukan ineng Balee dan Putroe Aceh dan dana yang dimilikinya, serta para calegnya. Dalam konteksnya ini, caleg diibaratkan sebagai senjata utama yang berfungsi sebagai vote getter.

Dengan kedua input di atas, maka strategi pemenangan yang tepat dapat dibuat. Baru kemudian merumuskan taktik untuk tiap-tiap strategi yang dipilih, dan menyiapkan logistiknya. Kemenangan bisa diraih bila strategi dan taktik tersebut dapat diimplementasikan atau dieksekusi secara efektif.

STRATEGI KAMPANYE PEMENANGAN PEMILU LEGISLATIF

Pengalaman 2019 dan 2014 biasanya partai akan melakukan survei, Survey dimaksudkan untuk mengetahui dan memetakan kebutuhan dan keinginan pemilih, sehingga nanatinya Slogan Kampanye, Program, Pernyataan dan komentar caleg, dan lain-lain dapat langsung menyentuh otak dan hati pemilih. Selain itu dalam Strategi Memilih Suara survey juga bermaksud untuk menandai kontak-kontak yang dapat menjadi jembatan komunikasi. Selanjutnya mengumpulkan data dan survey, team juga harus menganalisis data yang sudah dimiliki, termasuk melakukan perencanaan statagis terkait dengan program kampanye dan peta medan. Selanjutnya akan memberikan rekondasi, tentu saja team harus punya kekuatan untuk memberikan rekomendasi dan petunjuk kepada team lain dan team pengumpul suara. Pada level ini, team menjadi markas yang memberikan peta jalan kepada tiap-tiap “pekerja lapangan”.

Secara umum Bangunan Sistem kampanye sejatinya sangat berpengaruh terhadap perolehan suara pada pemilu. Secara sederhana dan singkat barangkali beberapa model dibawah ini sering ditemui pada caleg dari semua partai politik.

1.Pencitraan,

Pencitraan biasanya dilakukan guna mengenalkan (sosialisasi) tokoh atau partai. Biasanya menggunakan media : Iklan (Baik cetak ataupun elektronik), Papan Reklame, Spanduk, Poster, Stiker, dan media-media promo lainnya.

Catatan: Hal ini penting sejauh dimaknai sebagai sebuah “serangan udara” yang tidak terpisah dari program lainnya. Namun, metode ini tidak mampu mengukur efektifitas dirinya sendiri. Diperlukan bantuan perangkat lain untuk mengukurnya, dan kuantitasnya tidak selalu berbanding lurus dengan hasilnya.

2.Kampanye Publik

Yang dimaksud kampanye publik atau sering disebut dengan kampanye dialogis adalah kampanye yang dilakukan dengan pengumpulan massa. Biasanya berbentuk: Vergadering (rapat akbar), Konvoi, Mujahadah, Istighatsah, Dialog Publik, dan lain semacamnya.

Catatan: Hal ini menjadi berarti sejauh juga dimaknai sebagai “Serangan Udara” atau “Serangan Laut” yang juga tidak terpisah dari program lainnya. sebagaimana pada metode pencitraan, model ini juga tidak mampu mengukur jumlah suara yang bakal diraih dari hasil kampanye. Kalaupun ada sejumlah massa berkumpul, hal tersebut juga tidak dapat dijadikan patokan jumlah suara yang akan diraih, apalagi ditengah maraknya fenomena “satu orang pemilih dapat terhubung dangan partai yang berbeda-beda”. Lain daripada itu, kampanye semacam ini tidak mengarah ke 1 orang Caleg, melainkan partai secara umum.

3. Meraih Simpati Tokoh

Tokoh Masyarakat (Tokoh Agama, Tetua Adat, Pemimpin Pergerakan, Ketua Perhimpunan Profesi, tekoh pemuda dan mahasiswa) seringkali juga menjadi rebutan partai atau caleg. Harapannya dengan meraih “Kepalanya”, “Leher sampai ujung Kakinya” juga akan ikut.

Catatan: Hal ini juga menjadi penting sejauh diposisikan sebagai jembatan penghubung atau pelempang jalan bagi program dan “serangan” lainnya. dalam mendongkrak perolehan suara, sedikit banyak upaya ini efektif sejauh tidak ada hal-hal memaksa dari eksternal (lawan) yang mengacaukan solidaritasnya. Namun demikian penting diperhatikan bahwa ada fenomena pembangkangan diam-diam dari massa terhadap patron tokoh-tokoh yang disebut di atas. Selain itu, biasanya para tokoh-tokoh tersebut “harga simpati dan dukungannya” mahal, sedang kerjanya minim. (disini peluang Strategi Memilih suara nantinya dapat mengobok-obok pengaruh para tokoh tersebut).

4. Turba

Selain Beberapa Hal di atas, yang biasanya tidak satupun Partai atau lebih tepatnya Caleg melupakan adalah Turba alias Menyapa Pemilih. Bagi Caleg yang memiliki investasi sosial yang tinggi diluar kepentingan pemilu tentu dapat mengandalkan teknik ini.

Teknik ini juga sering dimaknai sebagai “Serangan Darat”. Singkatnya hal ini dilakukan dengan mengunjungi pemilih dengan cara : Dari pintu ke pintu mengunjungi kerabat, teman, kolega, dsb. Hadir di acara komunitas (baik yang natural ataupun direkayasa), hadir di forum-forum, baik formal ataupun non formal, dsb.

Catatan: Bagi Caleg yang memiliki investasi sosial tinggi, hal ini efektif, namun pengukuran jumlah raihan massa hanya berdasar asumsi. Bagi Caleg yang minim investasi sosialnya, harus lebih rajin dan berhati-hati menggunakan teknik ini, jangan sampai menjadi boomerang, serta harus didukung dengan perangkat dan teknik lainnya.

5. Program

Salah satu bagian dari agenda kampanye yang juga tidak pernah dilupakan adalah Program, program bentuknya dapat bermacam-macam: dari menekankan idiologi partai, idiologi keacehan membantu tempat umum atau fasilitas umum seperti penyedian air bersih, pembuatan sumur, perbaikan jalan kampung, bantuan alat-alat pertanian, bantuan ternak, perbaikan rumah ibadah, dan lain sebagainya. Harapannya, warga yang telah dibantu tersebut dapat semakin mantap untuk memberikan dukungannya. Pada beberapa hal, hal ini dapat diposisikan sebagai “back up artileri bagi pasukan infanteri”.

Catatan: Upaya ini pasti ada hasil, tapi semua kelompok pasti sama-sama melakukan, jika celaka, nyanyikan caleg, hanya buang rupiah, karena fakta-fakta itu lari ke caleg lain karena nyumbangnya lebih banyak. Tapi jika diatur dengan baik dan sinergi dengan agenda dan bagian lain, hal ini mampu mempersatukan pemilih. Tapi tentu, biasanya urunannya juga lumayan.

Penulis: ZULKIFLI S.Sos ,. M.SiKoordinator SPMA PIDIE & PIDIE JAY

Leave a Reply