Pemuda dan Masa Depan Aceh

by

Pemuda Dan Masa Depan Aceh

*Penulis Afizal

*SPMA Aceh Tenggara

Sejak lama telah diceritakan kepada kita, masa depan bangsa ini sangat bergantung pada generasi muda, pada pemuda. Bangsa ini akan terus eksis dan berkembang jika mampu menyiapkan regenerasi dari waktu ke waktu. Generasi pelanjut yang matang akan membawa bangsa dan Negara lebih baik dari sebelumnya dan terbaik dalam segala aspek.

Tentu kita menyadari, menjadi terbaik bukan hal mudah dan sederhana. Perlu proses dan komitmen bersama sehingga pada akhirnya cita-cita luhur dapat terwujud.

Pemuda, Cikal Bakal Kepemimpinan

Sejarah telah mencatat bahwa bangsa ini lahir tak lepas dari peran penting para pemuda di setiap masanya. Mari kita lihat bagaimana Gerakan Sumpah Pemuda pada 1928, Gerakan Reformasi pun digerakkan pemuda, atau bahkan jauh sebelumnya ada sosok KH Ahmad Dahlan sebagai sosok pemuda yang melahirkan ormas Muhammadiyah, juga Khadarul Syeikh KH Hasyim Asy’ary yang mendirikan Nahdatul Ulama, gerakan kebangkitan pada alim ulama. Tak sebatas itu, jika kita selidik lebih jauh ke masa lampau, cerita manis dari pemuda tidak ada putusnya mengisi tinta emas peradaban bangsa.

Begitu pula dengan masa depan kepemimpinan Aceh ini. Adalah sebuah keniscayaan bahwa estafet kepemimpinan hari esok akan berganti kepada yang muda saat ini. Kepemimpinan akan terus berlanjut dan berganti secara alamiah dari zaman ke zaman, menciptakan peradabannya sendiri. Begitulah regenerasi sebagai sebuah keharusan dan kita wajib mempersiapkannya.

Terlepas dari problematika yang dihadapi pemuda masa kini, mulai dari tergerusnya karakter ketimuran, terjebak dengan budaya yang menyimpang, hingga ke perilaku kriminal seperti penyalahgunaan narkoba, perilaku seks bebas, begal, tawuran, dan lainnya adalah sejumlah tantangan zaman yang perlu kita atasi agar bisa menjadi pemuda yang berkarakter dan tangguh.

Kesadaran bahwa kita pemimpin masa depan Aceh adalah sesuatu yang harus tertanam “from within” (dari dalam) sebagai ciri pemuda kesatria. Pemuda kesatria bukan pemuda yang larut dengan masa lalu, bukan pula yang berputus asa sebab bisa membuatnya mundur sebelum bertarung.

Sungguh beruntung para pemuda masa kini, karena kita telah dimanjakan dengan berbagai fasilitas yang idealnya membantu produktivitas. Jika kita mampu bergerak sama dengan frekuensi perkembangan zaman yang tidak bisa diprediksi ini, karpet merah kepemimpinan adalah milik kita, bukan milik orang lain apalagi Aceh ini.

Dalam ranah Aceh yang lebih khusus, lingkup kepemudaan memiliki tantangan yang lebih kompleks. Rentetan peristiwa, terutama pasca-bencana tsunami dan berakhirnya konflik bersenjata melalui penandatanganan Moratorium of Understanding (MoU) antara Pemerintah Republik Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka pada 15 Agustus 2006, tetap masih menyisakan sederet pekerjaan rumah bagi kita, kaum muda Aceh, menyongsong masa depan perdamaian demi keberlanjutan pembangunan yang berkeadilan di provinsi ini.

 dengan jejak terbaik. Berharap kepada orang lain untuk bisa sampai ke puncak peradaban adalah sebuah kesalahan berpikir dan akan menjadi noda peradaban. Masa depan terbaik adalah masa depan yang dipenuhi dengan pemuda-pemuda yang mampu berdiri di atas kaki sendiri dan selalu berjuang mengembangkan potensi diri.

Potensi sekaligus tantangan yang perlu dilalui untuk sampai pada puncak peradaban. Pemuda yang akan menjadi pemimpin (leader) adalah mereka yang mampu bertahan mengatasi setiap tahapan ujian

Menatap Aceh masa depan adalah salah satu langkah untuk mempersiapkan regenerasi pemuda. Pembangunan sumber daya manusia yang utuh dengan karakter entrepreneurship yang meng-Aceh adalah pondasi utama yang perlu mendapat penekanan lebih. Memperkuat nilai spiritualitas anak aceh serta penghayatan pada pancasila sebagai falsafah bangsa adalah satu kesatuan yang perlu mewujud dalam interaksi kemasyarakatan. Dengan ini, pemimpin berkarakter yang handal akan menjadi bagian dari masa depan Aceh.

Saya memiliki keyakinan besar bahwa bangsa ini akan semakin besar. Pengusaha terus bertambah, berikut dengan pemuda yang menjadi pengusaha. Angka presentasinya mendekati 2% yang berarti besar peluang untuk menjadi lebih baik dari masa ke masa. Tentu hal ini sangat bergantung pada komitmen kita bersama, sejauh mana kita mencintai dan menjaga Aceh ini.

Akhirnya, saya ingin mengatakan bahwa gambaran masa depan Aceh tercermin dari cara kita mengembangkan diri dan cara kita membangun generasi muda. Jika tidak cerdas membukakan jalan untuk para pemuda, bukan tidak mungkin anak cucu kita hanya mengenal sejarah panjang romantisme nenek moyang di zaman kerajaan-kerajaan nusantara. Mulai dari kesultanan Samudera Pasai Aceh, Kesultanan Pulau Jawa, Gowa Tallo, hingga Ternate dan Tidore.

Peradaban manusia akan terus berputar, ada kalanya dipegang oleh pemimpin yang religiusitasnya baik dan ada kalanya dipegang oleh pemimpin yang dzalim, durjana, atau munafik. Sejarah akan berulang hanya waktu dan pelaku yang berbeda. Bukan soal siapa dan kapan, tapi apa yang kita lakukan untuk masa depan Aceh. Komitmen kita sebagai pemuda berkarakter kesatria tangguh yang berpegang pada religiusitas dan falsafah bangsa, itulah masa depan Aceh.

Leave a Reply