Pemuda dan Masa Depan Aceh

by

Pemuda dan Masa Depan Aceh

#SPMAAcehTenggara

Oleh: Andre Giovani

Kedua kata dalam tema itu sangatlah berkaitan, karena masa depan itu sendiri ada di tangan para pemudanya, sebagimana pepatah arab mengatakan yang artinya “Di tangan pemuda urusan umat dan pada kemajuan pemuda kehidupan umat”.[1] Pemuda dalam kamus besar bahasa Indonesia adalah seorang yang berusia muda, sedangkan Dalam Islam sosok pemuda dalam bahasa arabnya di kenal dengan nama “fata”. Sedangkan kata “futuwwah” merupakan bahasa arab yang  berasal dari “fata”. Penjelasan futuwah itu sendiri sangat berkaitan dengan kepemudaan dalam interaksinya dengan kehidupan spiritual  yang bersifat permanen, bukan hanya terpaut pada kepemudaan yang bersifat  jasmani. Al-quranul karim  sendiri juga menyinggung sosok al-fata (pemuda), diantaranya dinukilkan dalam surat Al-Kafhi ayat 10 berbunyi: “(Ingatlah) tatkala para pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua, lalu mereka berdoa: “Wahai Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini).”(QS. Al-kahfi: 10).

            Menelusuri dalam kajian tafsir, salah satunya sebagaimana disebutkan penafsiran ayat diatas tentang esensi pemuda dipertegas oleh riwayat Sulaiman bin Ja’far, beliau berkata: Imam Ja’far bin Muhammad berkata:“Wahai Sulaiman, siapakah pemuda itu?”kemudian aku menjawab: “..pemuda bagi kami adalah orang yang masih muda.”Lantas beliau berujar kepadaku: “Seperti yang engkau  ketahui bahwa Ashabul Kahfi semuanya adalah orang-orang tua akan tetapi Allah SWT menyebut mereka sebagai pemuda karena keimanan mereka. Wahai Sulaiman: “Barangsiapa beriman kepada Allah dan bertakwa maka dialah pemuda.”Pernah dalam kesempatan yang lain Imam Ja’far Ash-Shiddiq menyebutkan:“Pemuda itu adalah seorang mukmin”.

Aceh adalah adalah satu-satunya daerah yang telah diperbolehkan untk menerapkan syariat Islam di Indonesia, hal ini terbukti dengan diakui oleh Negara sejak disahkannya Undang-undang Nomor 44 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Keistimewaan Provinsi Daerah Istimewa Aceh pada tanggal 4 Oktober 1999. Menurut pasal 3 ayat (2) Undang-undang Nomor 44 Tahun 1999 ada 4 bidang keistimewaan yang diberikan kepada Daerah Aceh, yaitu:

  1. Penyelenggaraan kehidupan beragama
  2. Penyelenggaraan kehidupan adat
  3. Penyelenggaraan pendidikan, dan
  4. Peran Ulama dalam Penetapan Kebijakan Daerah.

Berdasarkan data dari APK-AMP Kemdikbud tahun 20017, jumlah pemuda Aceh mencapai lebih dari 553.000 jiwa , diantaranya adalah pemuda-pemudi  Aceh Tenggara yang berjumlah lebih dari 12. 900 jiwa.[2] Dengan banyaknya pemuda Aceh tersebut, tetapi kenapa kondisi Aceh masih saja terus seperti ini?

Dalam artikel ini, penulis akan menyampaikan bahwa ada 3 kriteria yang harus dimiliki oleh pemuda, yang dengan hal tersebut In syaa Allah akan membawa Aceh menjadi lebih baik di masa depan. Adapaun ketiga hal tersebut yaitu:

  1. Agama

Masyarakat Aceh mempunyai agama yang masing-masing berbeda, bukan perbedaannya yang jadi masalah, tetapi yang menjadi masalah adalah sudahkah pemuda pemudi Aceh menerapkan ajaran agamanya dalam kehidupannya sehari-hari?. Pertanyaan ini mari kita kembangkan lagi.

Di setiap agama apapun di Aceh, pasti tidak ada yang membenarkan melakukan tindak kejahatan atau penyimpangan sosial. Tapi masih saja ada orang-orang yang melakukannya khususnya pelakunya adalah pemuda. Dari Fakta ini jelaslah bahwa pengamalan ajaran agama belum diterapkan secara sempurna dalam kehidupan sehari-hari.

Sebagai bukti, Kapolda menyebutkan, kasus narkoba yang ditangani Polda Aceh pada 2017 sebanyak 1.526 kasus. Sedangkan tersangka 1.526 kasus narkoba tersebut sebanyak 2.153 orang. Terdiri 2.061 orang tersangka laki-laki dan 92 orang tersangka wanita. Sementara, kata Kapolda, barang bukti narkoba yang disita terdiri 15,889 ton ganja dan 44,975 kilogram sabu-sabu. Serta 3.813 butir ekstasi.[3] Dari data tersebut, maka sangat utama bagi seorang pemuda untuk bercermin pada agamanya. Ia harus membaca sisi mana yang belum ia ketahui, bagian mana yang belum ia terapkan dan apa yang seharusnya ia lakukan sebagai seorang pemuda sejati.

Jika seorang pemuda sudah membaca, mamahami dan mengamalkan ajaran agamanya, maka tindak kejahatan atau penyimpangan sosial akan menurun secara drastis. Hal itu sangatlah mungkin terjadi karena pemuda itu sudah memiliki iman sebagai benteng pertahanan yang kokok untuk membentengi dirinya dari pada melakukan hal-hal yang tidak bermanfaat sama sekali. Iman bertujuan agar seorang pemuda itu merasa bahwa Tuhan selalu mengawasinya hingga hal itulah nantinya yang akan menjadikan pemuda itu sebagai pribadi yang bertanggung jawab dan mampu membangun Aceh lebih baik lagi.

  1. Pendidikan

Berdasarkan data Kemdikmud tahun ajaran 2017/2018, jumlah siswa yang putus sekolah seprovinsi Aceh mencapai 36. 638 jiwa, dengan rincian 14. 295 di tingkat SMA, 21. 749 di tingkat SMP dan 594 di tingkat Sekolah Dasar[4]. Hal ini akan sangat berdampak buruk pada generasi pemuda Aceh karena pendidikan itu sangatlah penting. Dari data tersebut, pemerintah Aceh harus mengatasinya agar tidak ada lagi siswa yang putus sekolah dengan cara-cara tertentu, misalkan dengan memberikan beasiswa berupa beasiswa prestasi dan bidikmisi, tidak hanya itu saja, selama ini beasiswa itu sudah dijalankan tetapi kita membutuhkan cara baru yang harus dipikirkan dan dilaksanakan pemerintah Aceh untuk membantu para pelajar.

Mungkin Anda bertanya, apa pentingnya pendidikan bagi seorang pemuda?. Jawabannya adalah SANGAT penting. Tujuan dari pendidikan di sini adalah memerangi kebodoohan atau ketidaktahuan pemuda. Dengan pendidikan seorang pemuda akan memiliki beberapa kompetensi yang baik, diataranya yaitu:

  • Karakter

Karakter yang dimaksud di sini ada 2 macam, yaitu:

  1. Karakter Moral, dan
  2. Karakter Kinerja

Karakter adalah sikap ataupun akhlak seseorang. Seorang pemuda itu harus memiliki karakter moral seperti iman, taqwa, jujur, amanah, dan sebagainya. Tidak hanya itu saja, seorang pemuda juga harus memiliki karakter kinerja, seperti ulet, kerja keras, termapil, rajin dan sebagainya, kita pasti tidak menginginkan yang baik tapi pemalas, rajin tetapi tidak jujur, keduanya harus saling melengkapi. Dengan pendidikan hal ini dapat dicapai oleh seorang pemuda.

  • Berpikir Kritis

Seorang pemuda selayaknya memang memiliki keingintahuan yang tinggi, berpikir kritis juga dapat diartikan sebagai peka terhadap lingkungan sekitarnya. Sorang pemuda yang berpikir kritis akan selalu saja memiliki ide gagasan untuk membangun yang terlupakan dan untuk mengatasi permasalahan.

  • Kreatif

Dengan pendidikan, seorang pemuda akan belajar bagaimana caranya memanfaatkan barang bekas atau barang yang sudah tidak terpakai lagi untuk diolah menjadi barang yang masih bisa digunakan dan bermanfaat. Hal ini hanya bisa didapatkan dalam pendidikan karena seorang pemuda akan belajar teori pengolahan barang bekas salah satunya, untuk dijadikan barang baru yang memiliki nilai ekonomi tertentu dan bahkan bisa berdaya saing dengan barang-barang yang dijual lainnya.

  • Komunikatif

Komunikatif adalah salah satu dari sifat Nabi Muhammad SAW yaitu Tabligh, yang artinya adalah menyampaikan. Tetapi makna ini terlalu sempit untuk menggambarkan sifat mulia Nabi Muhammad SAW, maka makna Tabligh akan lebih luas maknanya dengan sebutan komunikatif.

Komunikatif adalah kemampuan berbicara kepada orang lain baik di hadapan umum maupun perorangan. Keahlian dalam berkata-kata juga sebaiknya dimiliki seorang pemuda, agar mereka bisa mengajak masyarakat untuk melakukan kabajikan. Dengan kemampuan ini, pemuda itu dapat membujuk rayu setiap lapisan masyarakat mulai dari yang muda sampai yang tua dan dari yang miskin sampai yang kaya karena kemampuan komunikasi ini. Dan hal ini hanya akan dipelajari seorang pemuda di dalam sebuah pendidikan.

  • Kolaboratif atau dapat bekerja sama

Untuk dapat membantu dan bekerjasama dengan seluruh lapisan masyarakat, maka seorang pemuda itu perlu memiliki hal yang satu ini. Bagaimana tidak, agar seorang pemuda itu tidak bersifat egois atau mementingkat kepentingannya sendiri maka poin ini adalah solusinya. Pemuda yang mementingkan orang lain dan orang lainpun bisa bekerjasama untuk membangun Aceh karena tidak mungkin bisa jika dilakukan seorang diri. Seorang pemuda juga makhluk sosial yang berinteraksi dengan orang lainnya.

  1. Adat dan Budaya

Adat dan Budaya adalah suatu kebiasaan masyarakat di wilayah masing-masing mulai dari melaksanakan suatu pesta, hiburan, pakaian dan lain sebagainya. Tujuan dari adat dan budaya ini ini tidak lain adalah untuk menunjukkan ciri khas keistimewaan daerah masing-masing. Jika setiap daerah itu memiliki adat dan budaya yang sama, maka apa yang akan menjadi ciri khas khusus antara daerah istimewa Aceh  ini dengan daerah yang lain?, lantas apa juga yang memjadi ciri khas Aceh Tenggara tanpa Tangis Dilonya, tanpa baju Meusiratnya dan lain sebagainya?. Maka hal ini perlu dijaga dan dilestarikan oleh para pemuda.

Pengalaman saya saat ditanya tentang adat Aceh Tenggara, ketika itu saya masih duduk di bangku SMP, jawaban saya adalah tidak tahu. Dan ketika saya duduk di bangku SMA, saya menanyakan tentang adat Aceh Tenggara kepada teman saya dan jawabannya adalah tidak tahu. Masalahnya adalah bukan hanya pemuda pada zaman saya sekolah saja yang tidak mengetahui tetapi banyak siswa-siswi yang duduk di bangku sekolah yang masih belum mengetahui adat dan budaya daerahnya sendiri. Salah satu penyebabnya adalah akibat dari globalisasi, yaitu alat komunikasi yang semakin canggih menyibukkan anak bangsa di dunia maya dan melupakan kehidupan nyata secara tidak sadar.

Maka seorang pemuda harus mengetahui adat dan budayanya sendiri dan mau mempraktikkannya di kehidupan sehari-hari. Jangan terlalu terobsesi dengan dunia maya yang tidak menjanjikan masa depan pemuda sama sekali. Untuk itu saya berharap agar pemerintah Aceh segera menyikapi hal ini terutama yang terjadi di kalangan remaja agar adat dan budaya Aceh tidak hilang ditelan zaman.

Leave a Reply