Qanun Al Asyi Sebagai Nilai Jiwa kepemimpinan Pemimpin Aceh Masa Depan

by

Qanun Al Asyi Sebagai Nilai jiwa Kepemimpinan Pemimpin Muda Aceh Masa Depan
Oleh : Muzammil

Pemimpin ialah suatu orang yang mampu memberikan arahan,mengendalikan, melindungi serta menjaga dan memberdayakan suatu system yang akan dibuat demi mencapai tujuan yang diinginkan. Selain itu jika ingin menjadi seorang pemimpin harus mempunyai sifat kepemimpinan yang teguh.

kepemimpinan ialah suatu sifat yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin. Kepemimpinan merupakan kemampuan menggerakkan, dan menanamkan kepercayaan pada orang lain atau sekelompok orang guna mencapai keinginan yang diwujudkan. Sebagai pemuda kita dituntut untuk menjadi seorang pemimpin sejak dini.
Mengapa, karena jika suatu saat nanti regenerasi kepemimpinan suatu bangsa, kita sudah siap menjalaninya dengan sepenuh hati, serta memiliki integritas yang kuat dan semangat yang ambisi.

Kebanyakan kita sebagai pemuda masih sangat berambisi untuk setiap keinginannya, dan masih mempunyai semangat yang membara untuk meraih apa yang ingin diraihnya. Maka dari itu para pemimpin muda aceh Aceh harus dilatih dan dibina agar menjadi pemimpin muda aceh berkarakter suatu saat nanti. Pemimpin muda aceh Aceh tentu harus mempunyai sifat yang beda dari setiap kepemimpinannya. Hal yang dapat membedakannya ialah karakter seperti apa pemimpin itu.

Kita bisa ambil contoh dari Sultan Iskandar Muda ia memiliki karakter pemimpin yang visioner, lalu sangat tegas terhadap kebijakan yang dia buat serta tak mengenal takut selagi demi kebaikan untuk rakyatnya sendiri. Lain halnya dengan presiden Amerika Serikat Barrack Obama. Presiden AS tersebut memiliki karakteristik yang menekankan kepada loyalitas terhadap bangsanya. Dari kedua karakteristik tersebut kita bisa ambil pelajarannya untuk menjadi seperti apa kita dan bagaimana kita mengaplikasikannya serta dapat diterima oleh sekelompok orang atau sebagainya.


Krisis Kepemimpinan

Salah satu persoalan yang membuat bangsa Aceh masih sulit maju dikarenakan persoalan demi persoalan tak henti-hentinya menjerat bangsa kita, dari pusat hingga daerah yang sulit terselesaikan. Tidak lain dan tidak bukan adalah “Permasalahan Kepemimpinan”. Krisis kepemimpinlah yang menjadi potret bangsa aceh dan seolah kita sedang menghadapi jalan buntu untuk pengembangan ke tingkat peradaban yang lebih tinggi.

Dan krisis kepemimpinan tersebut bukan hanya dalam wacana, tetapi sungguh dirasakan oleh masyarakat aceh seluruh lapisan. Indikasinya, banyak pejabat dan politisi dari tingkat bawah sampai yang teratas, dari seluruh pelosok daerah sampai ke pusat, peran pemimpin hampir tidak dirasakan manfaatnya oleh masyarakat aceh. Kekuasaan telah dilihat oleh masyarakat bukan lagi dijadikan sebagai media pelayanan bagi kesejahteraan masyarakat aceh. Akan tetapi lebih dilihat sebagai panggung tempat para pemimpin mempertontonkan kebolehan dan kehebatannya. Karena itu, masyarakat merasa ada jurang lebar antara pemimpin dengan masyarakat bawah.

Masalahnya, mengapa bangsa ini dari bawah sampai ke yang paling atas, dari tingkat daerah sampai ke pusat, di mana setiap posisi selalu ditempati oleh para pemimpin atau orang yang menempatkan diri sebagai pemimpin, justru mengalami krisis kepemimpinan? Jawabannya, karena para pemimpin tersebut, yang ada selama ini atau yang ada saat ini, tidak memiliki “karakter yang kuat”.

Ibaratnya, kita tidak perlu kecewa kehilangan jabatan, karena bisa kita peroleh lagi. Kita juga tidak perlu khawatir kehilangan harta, karena bisa kita dapatkan lagi. Yang patut kita khawatirkan apabila kita kehilangan kharakter, “we will lost everything”.

Untuk menjadi pemimpin yang baik dan sukses, bukan hanya sekedar memiliki keahlian teoritis saja, atau bahkan menguasai bidangnya (professional knowledge), namun yang paling penting dari semuanya adalah bagaimana cara memimpin atau yang utama adalah memiliki karakter yang kuat.

Karakter yang kuat antara lain terwujud keharmonisan atau keserasian antara pikiran (thought), kata (words) dan apa yang diperbuat (what must be done). Yang paling penting adalah bagaimana seorang pemimpin berbuat sesuatu sesuai dengan apa yang dipikirkan dan diucapkannya. Dan seorang pemimpin yang sukses, bukan hanya mengandalkan kekuatan pikiran dan kata-katanya saja, tetapi yang paling penting dari kesemuanya adalah melakukan tindakan nyata tentang segala sesuatu yang telah dipikirkan dan diucapkannya.
Ironisnya, para pemimpin aceh saat ini tidak pernah menjaga keharmonisan antara pikiran, kata-kata, dan perbuatannya.

Jadi singkatnya, harus ada satunya kata dalam perbuatannya. Hal seperti inilah yang akan saya angkat, ajarkan, dan latihkan kepada para mahasiswa UPN “Veteran” Jakarta dalam rangka mempersiapkan mereka menjadi pemimpin masa depan yang memiliki kharakter yang kuat.

Qanun Al Asyi, Nilai luhur Kepemimpinan Aceh

Kegemilangan Aceh di masa lalu adalah cerita yang tak terbantahkan. Cerita itu bukan hanya berasal dari kita sendiri, tapi juga diakui ilmuwan bangsa lain. Sejumlah bukti bertebaran di mana-mana. Salah satunya dalam Undang-Undang Dasar Aceh yang disebut Qanun Al Asyi.
Dalan qanun ini menyebutkan dengan jelas sifat-sifat yang harus dimiliki seorang pemimpin (Sultan/Raja) Aceh . Berikut penjabaran 15 sifat Sultan atau Raja-raja dalam Kerajaan Aceh Darussalam yang termaktub dalam Qanun Al Asyi tersebut:
1. Adil
2. Ahli akal dan bijaksana
3. Berani lahir batin, lagi teguh setia,
4. Murah hati dan murah dua tangan
5. Berlahan-lahan pada setiap perkataan dan perbuatan
6. Menyempurnakan segala janjinya
7. Benar janjinya dan benar perkataannya, tiada dusta sekali-kali
8. Kasih sayang kepada alim ulama, dan kepada sekalian fakir miskin dan yatim piatu, dan segala rakyat dan kepada segala wazir-wazir
9. Sabar dan insaf dan yakin dengan ikhlas,
10. Berbanyak maaf di atas segala yang taqsir,
11. Syukur kepada Allah di atas segalanikmat-Nya dan Rahmat-Nya dengan harap kemurahan Allah dan Kerelaan Allah Ta’ala
12. Kasih sayang kepada di bawah perintahnya dengan adil seadil-adilnya.
13. Menahan amarah serta sabar
14. Hendaklah memelihara hawa nafsu dari pada atas yang jahat.
15. Hendaklah duduk yang tetap dan hebat dengan ahli siasat dan hukama dan dengan ahli musyawarah dan dengan ahli akal budiman, lagi bijaksana dengan dua buah ilmu dan dua buah akal yang jernih lagi bersih lagi tenang dan hening.

Demikianlah sifat seorang pemimpin Aceh di masa lalu. Sebuah kegemilangan tak mungkin diraih tanpa pemimpin yang hebat. Aceh masalalu adalah cerita kegemilangan dari sebuah kepemimpin yang hebat.

Bayangkan dalam Qanun Al Asyi termaktub begitu lengkap sifat dan kriteria seorang pemimpin. Coba lihat dalam aturan mana dinegeri ini yang mengatur sedemikian komplitnya sifat seorang pemimpin. Yang ada cuma kriteria formal seperti ijazah atau surat surat lain. Sementara nilai-nilai ideal seorang pemimpin tidak punya acuannya. Sehingga lahirlah pemimpin-pemimpin seperti saat ini.

Bila para pemimpin kita memenuhi kriteria seperti poin ketujuh Qanun Al Asyi maka, dijamin korupsi tiada lagi. Nah bila aturan nenek moyang kita dijadikan acuan kepemimpinan Aceh saat ini, adakah kita akan mencapai kegemilangan kembali?

Pertanyaan selanjutnya, mengapa para pemimpin kita lupa meneladani hal ini. Andai kita membangun sebuah rumah, dan sudah terbukti sejak jaman silam campuran semen, pasir dan batu membuat bangunan kokoh. Apakah karena ini jaman modern lantas kita harus mencoba membuat rumah yang kokoh dari kardus?

Para pemimpin kita seharusnya becermin sedikit ke masa lalu. Agar menemukan falsafah kegemilangan. Semua pemimpin pasti punya cita-cita meraih kegemilangan. Bila begitu tempuhlah jalan, carilah taktik untuk mencapainya.
Merujuk keadaan kita hari ini sepertinya kita sedang menuju pada kemunduran. Pemimpin dengan rakyat seperti langit dan bumi. Pemimpin berada di istana dengan pagar tinggi dan pengawalan ketat. Bilapun bertemu rakyat hanya seremonial saja.

Bila dalam Qanun Al Asyi mewajibkan pemimpin bermusyawarah dengan para ahli, cendikiawan, ulama dan orang yang bijak. Kenyataannya hari ini para pemimpin kita lebih mendengar keluarganya yang tidak ahli apapun. Majelisnya adalah para pembisik dan penjilat. Majelis bukan ajang mencari solusi tapi ajang membagi rezeki. Rakyat atau yang diperintah manjadi alat atau komoditas. Keadilan hanya bagi para pemimpin dan kumpulannya. Hukum seperti pisau hanya tajam ke bawah. Beda dengan poin 12 Qanun Al Asyi yang memerintahkan pemimpin harus adil seadilnya kepada yang mereka pimpinan.

Dalam beberapa waktu lalu sempat keluar berita jumlah anggaran untuk melayani DPRA. Menghabiskan 10 persen anggaran Aceh. Inikah keadilan itu? Inikah jalan mencapai Aceh gemilang. Inikan contoh jalan untuk mencapai Aceh yang madani?
Pemimpin muda Aceh harus berkaca kembali ke masa lalu. Nenek moyang kita meninggalkan begitu banyak kearifan. Kearifan yang telah mereka tunjukan kegemilangannya. Menjadikan Aceh sebagai saksi bagi kemerdekaan bangsa Eropa. Menjadi bangsa yang disegani dalam percaturan dunia. Menjadi bangsa yang hari ini kita banggakan.

Masa lalu adalah cermin untuk melecut masa depan. Dan di tangan para pemimpinlah semua ini akan diraih kembali. Kekuasaan yang diraih hari ini adalah atas tumpahan darah. Atas pengorbanan nyawa dan harta. Maka ingat itu sebagai alat untuk menumbuhkan kesadaran. Agar kekuasaan ini menjadi nikmat bagi segenap makhluk di atas bumi Aceh.

Tantangan Kaum Muda

Bagi sebagian orang tantangan dianggap sebagai masalah yang harus di hindari. Namun, bagi sebagian besar kaum muda tantangan merupakan uji kemampuan diri sebagai upaya mengaktualisasikan diri. Sayangnya, tidak semua pemuda khusunya di aceh mampu mengatasi tantangan dalam hidupnya. Akibatnya, hanya sebagian orang saja yang mampu mencapai keberhasilan ketika masa mudanya sehingga dapat berkontribusi bagi bangsa.

Tantangan dapat diklasifikasikan dalam beberapa hal, yang mana menuntut penyelesaian yang berbeda-beda. Pertama, globalisasi pengetahuan, informasi, transportasi, bisnis, dan hiburan. Hal semacam ini yang membutuhkan inovasi dan kreativitas kaum muda dalam menanggapi serta mengatasi permasalahan yang ada. Dimana gairah dan semangat yang meledak-ledak dari pemuda terkadang membuat mereka tidak mampu mengatasi tantangan ini. Dampaknya sebagian besar dari mereka terseret dalam jurang permasalahan yang sangat dalam.

Kedua, oligarki kekuasaan dalam pemerintahan yang masih dikendalikan oleh tokoh lama (kaum tua). Kecenderungan tokoh lama (tua) berkuasa masih menjadi momok yang menakutkan bagi perkembangan generasi muda. Dimana dominasi kaum tua masih erat dan mengakar dalam pemerintahan. Sebuah tantangan besar bagi kaum muda untuk menggeser kaum tua dari kewenangannya memimpin bangsa ini. Tantangan kedua ini memang terbilang sulit dihadapi. Pasalnya, budaya, kebiasaan, dan karakter dari masyarakat yang mendahulukan kaum tua membuat kaum muda menjadi segan. Akibatnya, peran anak muda dalam membuat perubahan dan pergerakan serta inovasi baru selalu mengalami gangguan.

Ketiga, kaum kapitalis kian merajalela di dunia ini, tidak terkecuali di Indonesia. Banyaknya kaum kapitalis yang berjaya menambah deretan panjang kesengsaraan bagi sebagian besar masyarakat. Dimana kepemilikan modal hanya dimiliki oleh sebagian kecil orang. Artinya bentuk pemerataan pendapatan dan keadilan sosial belum tampak. Kondisi menjadi bagian yang harus diperjuangkan kaum muda agar pemerataan dan kesejahteraan masyarakat dapat ditingkatkan. Dibutuhkan pergerakan yang bersifat konstruktif dalam menanggapi permasalahan tersebut.
Keempat, munculnya budaya saling sikut satu dengan yang lainnya. Persaingan yang semakin ketat membuat semua lapisan masyarakat tidak terkecuali elit politik saling sikut satu sama lain. Upaya tersebut dilakukan agar dapat menang dalam kompetisi, baik yang sifatnya nasional maupun global. Kesalahan paradigma akan artinya persaingan membuat orang melakukan apa saja agar dapat menang. Namun, kondisi ini merupakan tantangan bagi kaum muda untuk membangun paradigma baru dalam dunia persaingan. Dimana seharusnya persaingan membuat seseorang lebih kompetitif, bukan malah menciptakan budaya negative.
Keempat hal di atas merupakan langkah awal dalam menguji kaum muda setelah kualifikasi yang telah ditetapkan sebelumnya. Dimana tantangan merupakan tahapan selanjutnya bagi kaum muda untuk membentuk pribadi yang utuh. Harapannya, agar mampu menjadi generasi penerus yang berdaya saing, bertanggung jawab, inovatif, tenang, dan bijaksana dalam menentukan penyelesaian atas masalah yang ada.

Mencetak pribadi yang kokoh memang tidak bisa dilakukan secara instan. Pasalnya membutuhkan langkah-langkah yang harus dijalani dan dilewati. Sebab proses penempaan akan memberikan pengalaman, dan pelajaran bagi pemuda sehingga mampu mengatasi permasalahan bangsa di masa mendatang. Gairah kaum muda yang terbilang meledak-ledak akan menjadi boomerang bagi dirinya jika tidak mampu mengendalikannya. Untuk itu, tantangan kaum muda yang diklasifikasikan di atas sebagai bentuk pembelajaran sebelum menjadi pemimpin bangsa di masa mendatang.

Berani Memanfaatkan Peluang

Perjalanan panjang masih harus dilewati para pemimpin muda Aceh agar mampu menjadi generasi penerus yang tangguh. Setelah kualifikasi dan tantangan, selanjutnya yang harus diperhatikan ialah kecekatan dari pemuda aceh untuk berani melihat dan memanfaatkan peluang yang ada. Jiwa muda yang terbilang masih labil bisa menjadi kekuatan besar untuk berani menentukan langkah, dengan memanfaatkan setiap peluang.

Peluang secara umum dapat diartikan sebagai sikap dari seseorang yang mampu memanfaatkan kelebihannya secara maksimal demi tujuan tertentu. Berdasarkan pengertian tersebut sosok pemudalah yang biasa menjadi aktor utama. Dimana dengan segala keahliannya, dan talenta yang dimiliki semakin menambah gairah untuk dikembangkan. Keunggulan yang dimiliki kaum muda bisa menjadi ujung tombak untuk menumbuhkan pemimpin muda aceh yang berkualitas dalam membangun bangsanya.

Berani memanfaatkan peluang berarti berani membuka diri untuk berusaha menggali potensi, kemampuan, dan talenta yang dimiliki untuk mengoptimalkannya, demi mencapai tujuan tertentu. Dimana pengembangan atas hal ini merupakan suatu bentuk membangun sisi positif dari kaum muda di Aceh. Kelebihan yang milikinya ialah produktivitas dan usia harapan hidup yang terbilang cukup tinggi. Maksudnya, kaum muda memiliki keunggulan produktivitas yang lebih tinggi dibandingkan kaum tua. Sedangkan, kecenderungan harapan hidup sangat tinggi, dimana pada usia yang masih belia sangat di mungkinkan untuk hidup lebih lama dibandingkan kaum tua.
Membutuhkan Dukungan Berbagai Pihak
Keberhasilan dalam menciptakan kemimpinan muda untuk masa depan yang diidam-idamkan,memerlukan keterlibatan dari berbagai pihak. Dimana peranserta keluarga, masyarakat, dan pemerintah ikut menentukan pembentukan sosok pemuda yang kokoh. Untuk itu, pembangunan infrastruktur bagi kaum muda menjadi hal penting bagi perkembangan kepribadiannya.

Pembangunan infrastruktus bagi kaum muda di aceh diperuntukan sebagai sarana pengembangan bakat dan talenta yang dimilikinya. Pembangunan infrastruktur ini meliputi, ruang publik bagi kaum muda, ruang dialog, sarana olahraga, dan wadah organisasi kepemudaan. Dalam hal ini peran pemerintah dimungkinkan memiliki andil yang cukup besar. Pasalnya, pembangunan infrastruktur ini memakan biaya yang cukup besar. Sedangkan, peran keluarga, dan masyarakat lebih kearah pembentukan karakter dengan menciptakan budaya, dan situasi yang kondusif bagi kemajuan jiwa muda.

Pengembangan kaum muda melalui pembangunan infrstruktur dimaksudkan sebagai sarana aktualisasi diri. Dimana, ruang publik digunakan sebagai sarana menjalin hubungan relasi dan sosial dengan sesamanya. Ruang dialog bertujuan menumbuhkan budaya diskusi bagi kaum muda, terutama dalam penyelesaian masalah bangsa. Sarana olahraga diharapkan menciptakan pemuda yang tidak hanya pintar saja, tetapi juga sehat secara jasmani dan rohani. Sedangkan, pembentukan organisasi kepemudaan diharapkan sebagai sarana pembentukan bakat-bakat kaum muda guna mempersiapkan dirinya sebagai generasi dan pemimpin bangsa dimasa mendatang.

Dalam menciptakan pemimpin muda aceh yang berkualitas dan menjadi idaman, memang bukan perkara yang mudah. Dukungan dari berbagai pihak ikut memberikan sumbangsi yang besar bagi terwujudnya pemimpin muda aceh yang diidamkan. Berdasarkan penelusuran yang telah dipaparkan diatas, membentuk pribadi muda yang berkualitas diperlukan proses dan tahapan yang sistematis. Dimana mampu membentuk pola yang bisa mendukung perkembangan kepribadian kaum muda.

Dengan berbagai tantangan yang ada, sistem yang diberlakukan diharapkan bisa menjadi kunci suksesnya membangun pribadi kepemimpinan yang kokoh. Melalui pola dan budaya yang selaras akan membentuk karakter pemuda aceh yang berkualitas.

Pemimpin muda aceh merupakan pemimpin atas seluruh rakyat aceh. Yang artinya akan membawahi seluruh rakyat aceh. Untuk itu, kesiapan seorang pemimpin muda aceh merupakan kunci sukses bagi kesejahteraan rakyatnya. Artinya kesiapan pemimpin muda aceh harus dimatangkan agar mampu membawa kemajuan rakyat dan bangsanya di masa mendatang. Penempaan dan proses yang panjang dalam pembentukan kepribadian yang akan ikut menentukan keberhasilan pemimpin muda aceh dalam membangun daerahnya. Perjuangan kaum muda aceh masih panjang teruslah berjuang demi negeri tercinta, demi masa depan yang cerah.
Biodata Penulis
Nama : Muzammil
Alamat : Desa Rayeuk Pirak, Kecamatan Matankuli, Kabupaten Aceh Utara
Universitas/Fak/Jur/ : IAIN/Tarbiyah dan Ilmu Keguruan/Tadris Bahasa Inggris
Penulis Adalah Alumnus Sekolah pemimpin Muda Aceh

Leave a Reply