Spirit Ramadhan, Kisah Dibalik Imam Ats – Tsauri.

by

Oleh: Mizan Aminuddin
Ketua Umum DPD IMM Aceh

ADVOKASIRAKYAT.COM, -OPINI – Saat Ramadhan datang, banyak orang yang berlomba-lomba berbuat kebaikan dan mencari pahala demi menyempurnakan ibadah nya di bulan suci ini.

Dalam Al-Quran disebutkan dalam Firman Nya.
“Wahai orang-orang yang beriman telah diwajibkan atas kami berpuasa sebagai mana telah diwajibkan atas umat-umat sebelum kamu, agar kamu dapat menjadi orang-orang yang bertaqwa”. (QS. Al-Baqarah : 183)

Dari ayat di atas mengingatkan saya pada satu kisah menarik tentang makam ahli puasa yang diriwayatkan dari Sufyan Ats – Tsauri. Seorang tokoh ulama dari dari daerah Kufah yang lahir pada tahun 716 M.

Kejadian itu terjadi saat Sufyan ats-Tsauri tinggal di Mekkah selama 3 tahun. Saat itu Sufyan salut melihat salah satu penduduk Mekkah yang bernama Abdullah. Pria itu memiliki kebiasaan beribadah yang sangat istiqamah. Selain istiqamah puasa sunnah, ia juga selalu datang ke Masjidil Haram pada waktu terik mata hari. Lalu melakukan tawaf dan shalat sunnah 2 (dua) rakaat.

Sebelum pulang Abdullah selalu menyalami Sufyan sehingga diantara kedua nya menjalin persahabatan yang sangat erat.

Suatu hari, pada siang hari yang terik. Sufyan tidak lagi menemukan Abdullah di mesjid. Tentu saja hal itu membuat diri nya penasaran karena waktu sudah lepas dari shalat ashar.

Rasa penasaran itu membuat nya bertanya-tanya, “ada apa gerangan dengan Abdullah? Apa yang terjadi dengan sahabat ku Abdullah? Apakah ia sedang sakit?”. Pertanyaan itu terus berkecambuk dalam hati dan fikiran Sufyan.

Akhirnya Sufyan mendatangi ke rumah Abdullah. Dan ternyata dugaan Sufyan benar ada nya. Saat itu pula Abdullah sedang terbaring di tempat tidur nya dalam kondisi yang sangat lemah. Lalu Abdullah memanggil sahabat nya itu untuk duduk didekatnya sambil sambil mengucapkan sesuatu.

“Apabila aku mati nanti, hendaklah kamu sendirian memandikan aku, menshalatkan aku, menguburkan aku dan jangan lah kau meninggalkan aku sendirian di kuburan pada malam hari nya”, ujar Abdullah. “Talqinkanlah aku dengan kalimat tauhid ketika malaikat Mungkar dan Nangkir menanyaiku”. Sambung Abdullah. Dan Sufyan pun menyanggupi nya. Tak lama kemudian Abdullah meninggal dunia. Sufyan sangat sedih karena telah kehilangan sahabat karib nya itu.

Meski demikian, Sufyan tetap sabar dan ikhlas sambil melaksanakan amanah yang disampaikan almarhum kepada nya. Ia merawat almarhum dengan memandikan, mengkafani, menyalati hingga ikut menguburkannya. Pada malam hari nya, Sufyan menunggu seorang diri di atas makam sahabat nya itu sambil membacakan kalimat talqin. Beberapa saat kemudian antara sadar dan tidak sadar, Sufyan mendengar suara dari atas. “Wahai Sufyan, orang tersebut tidak butuh penjagaan mu, tidak butuh talqin mu, tidak juga butuh pelipurlara mu karena aku telah mentalqinnya dan memberinya kesenangan”, kata suara tanpa wujud itu. “Dengan apa engkau menjaga nya”, tanya Sufyan. “Dengan puasa di bulan Ramadhan dan diikuti dengan puasa 6 (enam) hari di bulan syawal”, jawab suara itu. Tidak lama setelah dialog itu, tiba-tiba Sufyan terbangun dan tersadar. Ia kaget, karena saat itu ia tidak melihat seorang pun di sekeliling nya. Sufyan masih ragu apakah suara itu berasal dari malaikat atau seten yang berupaya menghasut nya.

Oleh karena itu, Sufyan pergi untuk mengambil air whudu’ untuk melaksakan shalat kemudian pergi tidur. Aneh nya di dalam tidur itu, ia bermimpi sama persis nya dengan kejadian tadi, bahkan mimpi nya berulang hingga 3 (tiga). Hal itu membuat Sufyan yakin sekali bahwa suara itu berasal dari malaikat Allah dan buka dari syaitan. Ia juga mengerti bahwa sahabat nya itu telah mendapatkan nikmat kubur.

Sufyan pun berdoa kepada Allah SWT. “Ya Allah, dengan anugrah dan kemuliaan Mu, berilah aku taufik agar dapat berpuasa seperti puasa nya sahabat ku ini, amin”. Ucap Sufyan dalam doa nya.

Itu lah tadi salah satu kisah yang begitu menginspirasi kita tentang kisah ahli puasa. Banyak pelajaran, hikmah dan juga dapat menambahkan Spirit Ramadhan (semangat berpuasa) yang bisa kita ambil dari kisah tersebut untuk memperbaiki kualitas ibadah kita di bulan Ramadhan ini. Tentu tidak ada alasan bagi kita selaku hamba nya dalam menjalankan ibadah puasa ini hingga se bulan penuh, kecuali bagi mereka yang diberikan keringanan (Al – Baqarah :184).

Mudah-mudahan kita dapat menjalankan nya dengan penuh iman dan taqwa, agar kita termasuk orang-orang yang beruntung. Amiin

Leave a Reply